You Are Here: Home » Life & Happiness » REFRAMING, THE TRUE ART OF ENJOYING YOUR LIFE

REFRAMING, THE TRUE ART OF ENJOYING YOUR LIFE

REFRAMING, THE TRUE ART OF ENJOYING YOUR LIFE

Reframing Teringat cerita tentang seorang calon penumpang dan pengalamannya saat berada di ruang tunggu  sebuah stasiun. Saat itu ada seorang anak kecil umur 9 tahun disana bersama pamannya. Anak kecil tersebut kerjanya berlari-lari sambil mengganggu para calon penumpang hingga seorang calon penumpang itu marah-marah. Kamu ini dasar anak nakal, pergi sana, ucap sang penumpang yang marah-marah. Dengan keadaan marah tersebut si calon penumpang tersebut mendekati pamannya dan marah-marah sambil memperingatkan calon penumpang lainnya sembari mengatakan jangan duduk dekat-dekat anak kecil itu. Ia terlalu nakal, sangat mengganggu. Akhirnya paman anak kecil tersebut mendekat dan dengan pandangan mata yang menunduk ia berkata, saya mohon maaf atas kelakuan anak kecil ini. ia hanya anak umur 9 tahun. Jadi mohon pengertiannya. Kemudian calon penumpang itu menyahut,  harusnya anda bisa jaga dia dan ajari dia agar tidak mengganggu orang dan bertindak terlaku nakal seperti ini, sahut sang calon penumpang. Sekali lagi saya mohon maaf, sebetulnya ia bukanlah seorang anak nakal. Ia anak baik, jawab sang paman. Belum selesai sang paman memberi penjelasan, sang calon penumpang langsung memotong pembicaraan, lha lihat sendiri kelakuannya.!. Sekali lagi saya mohon maaf, sahut sang paman. Seminggu yang lalu ibunya masuk rumah sakit karena kanker otak stadium 3. Tiga hari yang lalu ibunya meninggal dunia. Ayahnya sudah berpulang sejak ia masih dalam kandungan karena tabrakan maut. Itu sebabnya ia berprilaku demikian. Sekarang sayalah satu-satunya yang  dapat merawat dia, dan saat ini saya sedang dalam perjalanan membawa dia ke kediaman saya agar tinggal bersama saya. Setelah mendengar cerita dari sang paman, tiba-tiba pandangan calon penumpang yang tadinya menganggap anak kecil itu sangat nakal, akhirnya mendadak iba dan kasihan. Malang sekali nasib anak itu ya, kata sang calon penumpang.

————

Realitas luar berupa pengalaman murni sebenarnya tidak punya  arti atau makna. Hanya itu sebelum akhirnya kitalah yang memberikan makna atau arti pada pengalaman tersebut berdasar pada keyakinan kita dan nilai kehidupan kita. Sebuah kutipan dalam NLP menyatakan ‘The meaning of an experience is  dependent on the context’, arti dari sebuah pengalaman adalah berdasar pada konteks atau sudut pandangnya.

Nah, saatnya membahas mengenai Reframing.  Reframing adalah cara kita menilai atau memberi makna pada sebuah kejadian dan juga melakukan perubahan makna tersebut berdasar pada konteks dan arti baru. Ketika terjadi perubahan makna pada suatu stimulus maka secara langsung respon dan perilaku juga ikut berubah.

Reframing terdiri dari dua tipe yakni reframing pada konteksnya dan reframing pada artinya. Reframing yang mendasari pembuatan cerita, skenario, guyon, legenda, perumpamaan dan banyak lainnya.

MARI KITA BAHAS SATU PERSATU :

  1. CONTEXT REFRAMING (Reframing pada konteksnya)

Konteks reframing artinya memberi makna baru berdasar pada konteks yang berbeda. Dalam hal ini konteks reframing bekerja pada suatu perbandingan dari sebuah penyamarataan atau generalisasi atau simpulan. Ketika Anda mendengar orang mengucapkan sebuah keluhan atau komplain dalam bentuk ‘saya terlalu….., orang itu terlalu…., ia sangat…..’ maka Anda dapat gunakan metode ini. seseorang mengeluh atau melakukan komplain karena ia  telah meletakkan perilaku dalam sebuah konteks dimana ia merasa tak berdaya. ia memandang sebuah kejadian berdasar pada konteks yang sedang ia pakai dan menghapus konteks lain pada kejadian itu. Cerita di awal artikel ini adalah contoh dari penghapusan konteks lain karena memandang kejadian berdasar pada hanya satu konteks saja. namun saat konteksnya berubah maka maknanya berubah dan  saat makna berubah maka responnya pun atas kejadian itu berubah. Ada beberapa kalimat yang akan saya tunjukkan dibawah untuk lebih memahami tentang konteks reframing.

  1. Dia itu terlalu perfectionist.
  2. Orang tua saya terlalu memanjakan adik saya.
  3. Orang itu sangat kaya. Dia menempati rumah mewah seharga 5M.

Baik, mari kita bahas satu persatu contoh di-atas. Contoh A, dia itu terlalu perfectionist. Menurut sudut pandang seseorang dia adalah orang yang terlalu perfectionist, menuntut segalanya harus sempurnya. Mungkin Anda memakai konteks ini untuk menilai seseorang yang demikian, namun mungkin saja berbeda hal dengan ia memandang dirinya sendiri. Contoh B, orang tua saya terlalu memanjakan adik saya. Sebagai seorang kakak, tentu ada rasa iri karena  terbaginya perhatian orang tua kepada adiknya.  Hal ini wajar sekali terjadi dalam konteks pandangan seorang kakak. Untuk melakukan reframing konteks pada keadaan ini, Anda dapat menggunakan konteks lain. Kemudian contoh C,  orang itu sangat kaya. Mungkin bagi seseorang, orang itu sangat kaya, seperti saya. katakan bahwa belum tentu orang itu sangat kaya dimata orang lain yang ternyata kekayaannya seperti Bill Gates, orang itu belumlah kaya. Contoh  cerita pada awal tulisan ini juga demikian. Setelah mengetahui bahwa anak kecil itu sekarang hidup sebatang kara, maka makna yang tadinya ia menilai anak kecil itu terlalu nakal, sekarang berubah menjadi rasa iba dan simpati atas keadaan anak tersebut lalu memakluminya.

Keadaan diluar sana tidak bisa kita ubah. Keadaaan tetaplah keadaaan. Kitalah yang memberikan makna berdasar pada konteks dan sudut pandang kita.

  1. CONTENT REFRAMING (Melakukan Reframing Pada Isi Problem)

Reframing jenis ini digunakan ketika seseorang tidak senang dengan cara ia bereaksi pada sebuah keadaan tertentu. Mereka melihat reaksi mereka  seakan-akan sebuah kesalahan atau ketidak berdayaan.

Untuk melakukan reframing jenis ini terlebih dahulu kita ketahui pola yang mendasari terbentuknya suatu penyataan. Pola tersebut yakni :

Cause-Effect

Pola jenis ini dikatakan pola sebab-akibat. Ketika Anda mendengar seseorang mengucapkan pernyataan ‘kata-katanya membuatku marah’ maka pernyataan tersebut terbentuk berdasarkan pola cause-effect dimana ‘kata-katanya’ adalah sebab dan ‘marah’ adalah akibat.

Rumusnya :

X -> Y     atau    Jika (X) maka (Y)

Dimana :

X = Stimulus

Y = Respon

Sebagai Reframer kita ciptakan rumus tersebut sehingga terjadi pengalihan sehingga terbentuk rumus baru :

X -> Y1

X -> Y2

X -> Y3, dan seterusnya

Saat Anda temukan seseorang membuat pernyataan demikian, maka Anda dapat melakukan reframing jenis ini dengan mengubah arti dari keadaan tersebut karena saat demikian, seseorang yang membuat pernyataan tersebut belum punya arti dari keadaan tersebut. Yang ia miliki hanya pola sebab-akibat, maka Andalah yang memberikan arti pada keadaan tersebut dengan mengatakan, ini berarti………, ini menandakan……, ini artinya…..

Mari kita pahami Reframing jenis ini dengan sebuah contoh :

  1. Pesawat delay membuatku merasa kesal saja.
  2. Pacar saya seorang pekerja. Sejak ia bekerja ia jarang menghubungi saya, saya merasa kesepian.
  3. Anak saya ini, dirumah setiap habis selesai dengan mainannya, bukannya mainannya dikembalikan lagi malah langsung tidur. Jadi terpaksa saya yang bereskan mainannya terus menerus.

Pada contoh A, ‘Pesawat delay membuatku kesal saja’, Anda dapat melakukan reframing dengan mengatakan padanya ‘Bapak, Pesawat delay menandakan ada suatu masalah pada pesawat tersebut, dan ini artinya pesawat sedang dalam pengecekan. Ini lebih baik dibanding pesawat dipaksakan dengan kondisinya yang tidak stabil dan justru sangat berbahaya. Menunggu sejenak dengan kepastian keselamatan akan lebih berarti dibanding terbang tepat waktu dengan resiko tinggi’.

Pada contoh B, ‘jika pacar saya tidak menghubungi saya, saya merasa kesepian’. Pada pernyataan demikian, sebagai reframer yang baik, Anda dapat katakan padanya ‘Tidak menghubungi, menandakan dia sedang dalam tugas dan pekerjaannya. Ini berarti dia adalah seorang pekerja yang bertanggung jawab. Seseorang yang bertanggung jawab adalah seseorang yang jaman sekarang ini sukar untuk didapat. Banyangkan saja saat kalian nanti menikah, dan dengan tanda ia adalah seorang yang bertanggung jawab, maka ia akan bertanggung jawab pada keluarga. Menghubungi adalah suatu proses komunikasi, dan komunikasi bukan hanya dengan menghubungi, lho. Saat ini dengan tanggung jawab pada pekerjaannya, Anda dapat kirimi ia pesan melalui sms hingga saat ia punya waktu luang maka ia dapat balas sms Anda atau bahkan menghubungi Anda.

Pada contoh C, ‘Anak saya ini, dirumah setiap habis selesai dengan mainannya, bukannya mainannya dikembalikan lagi malah langsung tidur. Jadi terpaksa saya yang bereskan mainannya terus menerus’,  Anda dapat melakukan reframing dengan mengatakan ‘Ibu, Anda sebagai ibu yang baik, tentu anda ingin anak Anda juga baik, kan?, bagaimana biasanya seorang anak menjadi tidak baik.? Dengan ia bergaul dengan anak-anak yang tidak tepat bagi kebaikannya. Bagaimana bisa itu, saat ia bergaul diluar rumah dan ibu tidak bisa terkontrol oleh ibu. Bayangkan apa jadinya ia jika keluar rumah.? Ia demikian, bukankah itu berarti ia masih ada dirumah dan masih terkontrol oleh ibu.? Bukankah setelah bermain ia tidur menandakan dia sudah cukup betah dengan tetap berada dirumah? Artinya Anda hanya perlu perlahan edukasi dia dengan lebih bijak agar setelah selesai bermain maka mainan letakkan ditempat semula.

Dalam melakukan Reframing baik Context Reframing maupun Content Reframing, terlebih dahulu Anda harus hargai pada pendapatnya (Baca : Model Dunia). Dengan Anda menghargai pendapatnya, saat nantinya Anda melakukan reframing, ia akan dengan mudah menerima makna atau bingkai baru (baca : frame) terhadap keadaannya.

Satu presupposisi NLP mengatakan ‘people response of their model of the world’, orang merespon pada model dunianya.

About The Author

THE EXPERT OF MIND PROGRAMMING Alamat : Jl. Kusumanegara No. 2 Yogyakarta, Blackberry 2758CF47 Phone 085249345007 Facebook "Rizali Anshar" Follow Me on Twitter @RizaliAnshar

Number of Entries : 14

© 2013 Powered By Wordpress, Goodnews Theme By Momizat Team

Scroll to top